Selengkapnya">
6 Agustus 2019

Peluncuran Mata Uang Maluku oleh Beta Kreatif

Prakiraan durasi baca: menit - Panjang artikel kata.

Gema.id Maluku – Kritik atas pemerintah dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk melalui cara yang tidak lazim seperti yang dilakukan Beta Kreatif mengeluarkan mata uang maluku 100 PISI. Beta Kreatif melakukan hal tersebut sebagai upaya kritik atas pemerintah agar pemerintah lebih memperhatikan daerahnya. Beta Kreatif juga pernah membuat cara unik lain untuk mengkritik pemerintah yakni dengan membuat ‘paspor kedutaan besar maluku’.

Uang 100 PISI khas Maluku juga diambil dari salah satu bahasa setempat, “PISI” yang berarti uang dalam bahasa setempat.

Direktur Beta Kreatif M. ikhsan Tualeka menekankan ini adalah bentuk kekecewaan atas kurangnya perhatian pemerintah pusat  maupun pemerintah setempat akan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di Maluku.

“ini kan realitas yang ironis dan paradox. Menurut kementerian perikanan dan kelautan RI, untuk sector kelautan saja setiap tahun lebih 40 triliun rupiah dicuri dari laut Maluku. Belum lagi dari sector lain, tapi Maluku APBN-nya tidak lebih dari 3 triliun rupiah”.

Kritik Tualeka

Ada banyak hal yang perlu dikritik atas berbagai macam kebijakan yang mungkin saja merugikan daerah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah yang seharusnya dinikmati daerah tersebut. Mengingat aka nada ekslolasi Gas Abadi Blok Masela yang diperkirakan nilai investasinya menyentuh angka US$20 miliar. Segala kebijakan dan pengambilan tiap keputusan harus melibatkan masyarakat setempat karena hal ini menyangkut kehidupan masyarakat daerah tersebut. Jangan sampai masyarakat setempat dipinggirkan oleh kepentingan sepihak.

“kondisi ini janganlagi terjadi di Maluku, dimana nanti rupiah dihasilkan dari bumi Maluku tapi masyarakatnya tak pegang rupiah. Atau lebih baik  orang Maluku yang kelola sendiri alamnya dan punya mata uang sendiri seperti PISI”

sindir dan kritik Tualeka

Berbagai macam cara dapat dilakukan dalam penyampaian kritik yang membangun dan salah satu yang dapat digunakan adalah kritik simbolik guna membangun pula solidaritas bersama atas kritik yang disampaikan.

“artinya, perlawanan atas ketidakadilan secara simbolik dan kolektif dapat mendesak pemangku kewajiban untuk lebih perhatian dan peduli dengan pemangku kepentingan”

urai Tualeka

Baginya jika kelompok yang terpinggirkan dimasyarakat dapat mengelola sendiri sumber daya alam mereka, maka mereka akan dapat mempengaruhi tiap kebijakan Negara. Sumber daya yang dikelola dapat berupa sejumlah orang, solidaritas kelompok, jaringan lobi dan sebagainya. Melibatkan masyarakat setempat atas sumber daya alam yang ada didaerahnya akan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan mereka

Penaut:
Built with by Div.id
Back to Top