Selengkapnya">
Gema.id Maluku
13 Agustus 2019

Ambon, Sistem Ranking Di Sekolah akan Dihapus

Prakiraan durasi baca: menit - Panjang artikel kata.

Gema.id Ambon – Setiap selesai melaksana ujian akhir sekolah, siswa akan mendapat nilai dari guru mata pelajaran mereka berdasarkan hasil ujiannya. Dengan nilai itu mereka akan mendapat ranking sesuai nilai yang paling tinggi.

Saat ini Walikota Ambon (Richard Louhenapessy) meminta kepada para Kepala Sekolah (Kepsek) yang ada di Kota Ambon untuk menghapus sistem perankingan pada siswa-siswa yang ada disekolah, dengan alasan perankingan ini bisa menimbulkan dampak keegoisan dan kesombongan pada siswa, sehingga siswa susah untuk bergaul dengan siswa lainnya.

“Ketika waktu penerimaan rapor, tidak akan dicantumkan lagi nilai ranking siswa dan ini sudah saya buat keputusan kepada semua SD dan SMP.”

Kata Richard kepada wartawan, Senin (12/8/2019)

Ia menambahkan, sesuai dengan hasil survei yang ada, sistem perankingan pada siswa dapat membentuk karakter anak menjadi sombong dan tidak mau bergaul dengan anak yang tidak mendapat ranking. Disisi lain, siswa yang mendapat ranking itu bisa memotivasi siswa yang kurang “pintar” untuk belajar dan bersaing dalam mendapatkan ranking dikelas.

“Dari hasil survei membuktikan, itu bisa membentuk karakter yang sombong, hanya mau berteman dengan anak-anak yang cerdas dan yang lemah ia abaikan. Anak-anak seharusnya saling mendukung dengan siswa yang lainnya, baik itu pintar atau tidaknya.”

Ujarnya

Tambahnya lagi, hal ini mesti dituntaskan untuk mencegah adanya kesenjangan antar siswa yang ada didalam kelas. Sehingga, siswa bisa bergaul dengan yang lainnya tanpa memikirkan ranking-ranking yang mereka dapatkan, kemampuan dan kecerdasan siswa hanya diketahui oleh guru atau wali kelasnya saja.

“Jika hal ini tidak dilakukan, kedepannya akan terjadi suatu komunitas atau kelompok masyarakat yang tidak diinginkan.”

Tambahnya

Dan untuk menciptakan karakter yang disiplin anak sejak kecil, pendidikan yang disiplin akan diterapkan di sekolah Pendidikan Usia Dini (PAUD), mereka tidak akan belajar membaca dan menulis melainkan sopan dan patuh terhadap orang tua dan temannya.

“Selanjutnya, yang akan ditingkatkan adalah sekolah PAUD , ini akan dirumuskan kebijakan kurikulum lokal yang berbasis kedisiplinan seorang anak, untuk membaca dan menulis bukan soal yang utama melainkan bagaimana seorang anak bisa menghormati orang tuannya, bagaimana menjaga lingkungan dan bagaimana bergaul yang baik sesama teman. Itulah yang paling utama untuk pendidikan usia dini.”

Tutupnya

Penaut:
Back to Top